Jepara Peringkat 5 Nasional Darurat DBD, Kemenkes Cek Sampel Darah Pasien

JEPARA, Lingkarjateng.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jepara mengalami peningkatan yang signifikan. Tren tersebut disinyalir merupakan siklus lima tahunan yang mana pada tahun 2019, Kabupaten Jepara menjadi fokus nasional penanganan DBD.

Eko Cahyo Suspeno selaku Pelaksana Harian (Plh) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara menjelaskan kasus DBD di Jepara saat ini termasuk lima besar tingkat nasional darurat DBD.

Eko menjelaskan, banyak faktor pendukung yang menjadi penyebab DBD selain gigitan nyamuk Aedes Aegypti yakni faktor Trias Epidemiologi yang terdiri dari host (demografi, imunitas, status gizi, dan perilaku), agent (virus Dengue dan Vektornya), dan environment (fisik, kimia, biologi dan sosial ekonomi), faktor cuaca (panas-hujan, el-nino), dan kepanikan masyarakat dalam menyikapi kasus DBD.

“Ada 145 kasus DBD, 17 pasien meninggal dunia dengan rincian 14 korban dari kalangan anak-anak dan 3 dari kalangan dewasa,” terangnya terkait data kasus DBD di Jepara per 4 Maret 2024.

Kematian Akibat DBD di Jepara Meningkat, Mayoritas dari Usia Anak-Anak

Persebaran DBD tertinggi berada di Desa Troso, Bugel, Pecangaan, Kedung, Kalinyamat, Mlonggo dan Jepara kota.

Banyaknya kasus DBD di Jepara ini, pihaknya berharap warga mulai menggencarkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

Dia menyampaikan, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) ikut turun tangan dalam menindaklanjuti kondisi Jepara saat ini. Akan ada pengambilan serotipe virus atau sampel darah pasien positif DBD di Jepara untuk dilakukan pengecekan di Balai Besar Laboratorium milik Kemenkes yang ada di Bojonegoro.

“Nanti akan ada pengambilan sampel darah pasien DBD di enam rumah sakit yang ada di Jepara untuk diteliti. Tim akan mulai hari Rabu, selama satu minggu di Jepara,” pungkasnya. (Lingkar Network | Muhammad Aminudin – Lingkarjateng.id)