Kirab Dandangan, Visualisasi Warga Sambut Ramadhan di masa Sunan Kudus

KUDUS, Lingkarjateng.id – Salah satu pertanda dimulainya bulan Ramadhan adalah digelarnya kirab dandangan oleh masyarakat Kabupaten Kudus. Kirab dandangan merupakan upaya untuk nguri-uri budaya dan napak tilas Sunan Kudus. 

Kirab Dandangan merupakan tradisi yang dikenalkan oleh Sunan Kudus dan menjadi tradisi masyarakat Kudus untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Kirab dandangan dilakukan pada hari terakhir pelaksanaan tradisi dandangan yang digelar selama sepuluh hari jelang Ramadhan di Taman Menara Kudus.

Bupati Kudus, M. Hartopo, turut hadir untuk membuka kegiatan kirab dandangan yang tahun ini digelar pada Rabu, 22 Maret 2023 sore. Bupati Hartopo menceritakan asal muasal kirab dandangan yang bermula ketika para santri dan masyarakat zaman dahulu berkumpul di Alun-alun Kulon yang saat ini disebut Taman Menara.

Siap-Siap! Tradisi Dandangan Kudus Bakal Dibuka Sore Ini

Para santri dan masyarakat setempat berkumpul untuk menunggu pengumuman dari Kanjeng Sunan Kudus, Syeh Ja’far Shodiq, dalam menetapkan awal Ramadhan. Sunan Kudus dikenal sebagai ahli ilmu falak yang bisa mengetahui hitungan hari dan bulan dalam kalender hijriah. 

Pengumuman awal datangnya bulan Ramadhan dilakukan di pelataran Masjid Menara Kudus dengan memukul bedug di dua waktu. Pemukulan bedug waktu pertama ditujukan untuk mengumpulkan masyarakat. Pemukulan bedug di waktu kedua ditujukan untuk memutuskan sekaligus membuka awal Ramadhan setelah salat Isya. 

“Zaman dulu para santri dan masyarakat berkumpul di sini menunggu pengumuman awal Ramadhan dari Kanjeng Sunan sekaligus melakukan kirab ke menara, masyarakat saat itu juga memanfaatkan momentum untuk berniaga atau mremo,” jelasnya 

5 Rekomendasi Tempat Wisata Kudus Viral

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah, menambahkan bahwa kegiatan kirab yang diadakan ini merupakan visualisasi dandangan yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Tradisi sandangan telah tercatat sebagai WBTBoleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia (RI) pada tahun 2016.

“Kegiatan hari ini adalah visualisasi yang menggambarkan ketika masyarakat Kudus kala itu berbondong-bondong menuju ke Menara untuk mendengarkan tabuh bedug yang menjadi penanda awal bulan puasa,” terangnya.

Gelaran kirab ini merupakan bagian dari upacara adat dandangan menyesuaikan dengan apa yang telah dicatatkan dalam Kemendikbudristek RI. Kegiatan ini juga sebagai representasi budaya yang ada di Kudus, seperti visualisasi Kiai Telingsing, Sunan Kudus, rumah adat Kudus, batil (merapikan rokok), dan lain-lain.

Taman Menara Kudus Mulai Dibongkar, PKL Direlokasi ke Terminal Wisata Bakalan Krapyak

“Karena Dandangan ini sudah masuk dalam WBTB, maka prosesi kegiatannya menyesuaikan dengan apa yang sudah tercatat. Dalam WBTB itu, kegiatan kirab masuk dalam upacara adat dandangan,” bebernya.

Kirab dimulai dari Taman Menara menuju Jalan Masjid Madureksan ke utara lalu belok ke arah barat menuju Makam Sunan Kudus atau Menara Kudus.

Gelaran upacara adat dandangan ini sebagai upaya perlindungan tradisi dengan cara memberikan wadah ekspresi budaya dan sarana penyebarluasan informasi budaya kepada masyarakat. Sehingga, melalui kegiatan ini diharapkan bisa membangun persamaan persepsi terkait kebudayaan yang ada.

“Kegiatan ini dilaksanakan guna mewujudkan bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan, membangun komitmen dan mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga budaya bangsa. Khususnya supaya tradisi di Kudus tidak tergerus budaya asing, semoga kedepan dapat terlaksana kegiatan ini kembali untuk melestarikan tradisi dan kebudayaan Kudus,” paparnya.

Lebih dari itu,  kirab atau upacara adat dandangan ini juga bisa menjadi sarana peningkatan kemandirian perekonomian masyarakat. Harapannya, kegiatan ini juga bisa menjadi magnet untuk meningkatkan wisatawan.

“Jika tahun depan kami adakan lagi, mungkin juga bisa kami kembangkan dengan inovasi seperti ditambahi penampilan seni budaya. Jadi kegiatan ini bisa untuk mempromosikan seni budaya yang ada di Kabupaten Kudus dan bisa jadi daya tarik wisata,” tandasnya. (Lingkar Network | Nisa Hafizhotus S – Koran Lingkar)