Pengadaan Mulok Ukir di Jepara Terganjal Kompetensi Guru

JEPARA, Lingkarjateng.id – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara melalui Kepala Bidang (Kabid) SMP Ahmad Nurrofiq saat ditemui di Jepara, Kamis, 26 Oktober 2023 menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara terkait perubahan muatan lokal (mulok) ukir menjadi mata pelajaran (mapel).

“Kemarin pihak dewan pun menyetujui usulan itu. Cuma permasalahannya ketika nanti ukir ini jadi mata pelajaran, yang jadi kendala adalah gurunya, karena tidak ada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mengeluarkan jurusan ukir,” ucap Rofiq sapaan akrabnya.

Atas kendala tersebut, kata Rofiq, pihak DPRD mengusulkan untuk dilakukan proses persertifikasian kompetensi bagi tenaga pendidik.

“Misalnya guru dari jurusan apa saja kita kursuskan,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa saat ini mulok ukir masih dalam tahapan penyelesaian prosedur untuk bisa menjadi mata pelajaran.

“Jepara ‘kan terkenal dengan julukan Kota Ukir, kalau nanti ukir ini punah identitas kota ini akan berubah,” imbuhnya.

Rofiq menyebut, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat masyarakat di bidang ukir semakin berkurang. Di antaranya tidak adanya tenaga pendidik, kurangnya minat generasi muda dengan seni ukir, dan  pabrik di Kabupaten Jepara.

“Jika dibandingkan secara penghasilan, rata-rata anak sekarang lebih memilih pabrik dibandingkan mengukir. Kalau tidak ada yang peduli, itu ‘kan risiko tinggi untuk ke depannya,” tegas Rofiq.

Lebih lanjut, ia menyatakan, hingga saat ini pengaplikasian muatan lokal (mulok) ukir di sekolah-sekolah di Kabupaten Jepara memang masih menjadi ekstrakurikuler.

“Di kurikulum memang sudah ada, cuma pengaplikasiannya di sekolah itu melalui ekstrakurikuler. Kalau di tingkat SD masih pilihan, sedangkan untuk tingkat SMP sifatnya wajib,” jelasnya.

Menurutnya, jika dibandingkan di ekstrakurikuler dan intrakurikuler, ukir akan lebih efektif masuk intrakurikuler atau proses belajar mengajar.

“Sepatu-patuhnya anak mengikuti ekstrakurikuler, mungkin bisa dikatakan hanya beberapa persen saja daya serapnya. Karena ekstrakurikuler ngontrolnya agak susah,” ucapnya. (Lingkar Network | Tomi Budianto – Lingkarjateng.id)