Ketua DPRD Pati Tagih Surat Penunjukan Lokasi Tes PPPK di UNS

PATI, Lingkarjateng.id – Kisruh jelang pelaksanaan penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk Tenaga Pendidik (Tendik) dan Tenaga Kesehatan (Nakes) di Kabupaten Pati hingga kini terus bergulir. Terbaru, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati Ali Badrudin mengaku belum menerima surat dari Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) terkait pelaksanaan PPPK yang direncanakan dilakukan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Kejanggalan ini, kata Ali, didapati olehnya beserta para anggota saat rapat Badan Anggaran (Banggar) bersama dengan BKPP. Disebutkan dalam rapat tersebut, pihaknya hanya menerima surat untuk mendukung perihal anggaran pelaksanaan PPPK.

Alasan BKPP yang menyebut bahwa, sesuai dengan regulasi Badan Kepegawaian Nasional (BKN) pun dipertanyakan oleh Ali. Sebab, hingga kini pihak BKPP belum bisa menunjukan surat tersebut kepada DPRD.

“Suratnya mana, suratnya belum ada. Surat yang diajukan BKPP kepada DPRD hanya berupa perintah untuk merekrut PPPK secara mandiri beserta tahapan. Sampai detik ini kami belum menerima tempat dan rekanannya. Kalau ada surat yang sah, ya tidak apa-apa,” tegas Ali saat ditemui pasca rapat paripurna, pada Jumat, 15 September 2023.

Tentunya, Ali bersama para anggota DPRD berharap, BKPP bisa mempertanggungjawabkan keputusan ini. Sebab, hingga kini permasalahan tersebut menjadi perhatian serius bagi DPRD Pati selaku wakil rakyat.

“Harapan kami ada perubahan, BKPP harus memberitahukan suratnya. Kami pertanyaan serius,” imbuh Politisi dari PDIP.

Menurutnya, pelaksanaan PPPK di UNS ini akan sangat memberatkan para peserta yang diprediksi berjumlah ribuan. Dengan gaji guru honorer yang hanya berkisar ratusan ribu. Pelaksanaan PPPK ini tentu akan sangat memberatkan para peserta, terutama bagi mereka yang tidak lolos.

“Harapan kami itu sebenarnya dilaksanakan di Pati. Dengan kerjasama universitas siapapun. Kalau di Solo jauh lo itu. Iya kalau diterima? Kalau tidak, dari ribuan peserta ‘kan yang diterima hanya 600. Sisanya 2400 kan kasihan,” tukasnya. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Lingkarjateng.id)