Prof Andy: “Londo Ireng” yang Disampaikan Prabowo Merujuk pada Mentalitas Kolonial, Bukan Ras

Prof Andy Londo Ireng yang Disampaikan Prabowo Merujuk pada Mentalitas Kolonial Bukan Ras

KABARDARING – Polemik mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “Londo Ireng” masih menjadi perbincangan di ruang publik. Beragam penafsiran bermunculan, termasuk anggapan bahwa istilah tersebut mengandung unsur rasial. Namun, Guru Besar Bidang Ilmu Kebijakan Publik Universitas Brawijaya, Prof. Drs. Andy Fefta Wijaya, MDA., Ph.D., menilai penafsiran tersebut tidak sejalan dengan konteks pidato Presiden.

Menurut Prof. Andy, istilah “Londo Ireng” yang disampaikan Presiden Prabowo tidak ditujukan kepada individu, kelompok etnis, maupun ras tertentu. Sebaliknya, istilah tersebut merupakan metafora yang merujuk pada cara berpikir dan bertindak yang lebih mengutamakan kepentingan asing dibandingkan kepentingan nasional.

“Yang dimaksud Presiden bukanlah individu tertentu, melainkan siapa pun yang berpikir dan bertindak demi kepentingan asing di atas kepentingan nasional. Kritik tersebut menyasar mentalitas, bukan identitas seseorang,” ujar Prof. Andy.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi politik Indonesia, penggunaan metafora untuk mengkritik sikap elite bukanlah hal baru. Karena itu, menurutnya, pernyataan Presiden perlu dipahami secara utuh sesuai konteks pidato, bukan dipisahkan dari substansi yang ingin disampaikan.

Baca Juga: Pengamat: Kita Dukung Komitmen Presiden Prabowo Berantas Korupsi

Prof. Andy menilai Presiden sedang mengingatkan pentingnya menjaga keberpihakan para elite terhadap kepentingan bangsa di tengah berbagai tantangan global. Kritik tersebut, kata dia, diarahkan kepada pola pikir yang menempatkan kepentingan eksternal di atas kepentingan nasional.

“Presiden mengkritik mentalitas elite yang mengutamakan kepentingan asing dibanding bangsa sendiri. Itu bukan serangan terhadap ras ataupun warna kulit tertentu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Andy mengatakan bahwa istilah “Londo Ireng” telah lama digunakan sebagai metafora mengenai mentalitas kolonial. Dalam konteks tersebut, istilah itu tidak berkaitan dengan identitas biologis atau rasial seseorang, melainkan menggambarkan sikap yang dinilai masih membawa cara pandang kolonial dalam mengambil keputusan.

Ia menambahkan bahwa pemaknaan tersebut juga pernah dijelaskan oleh pengamat politik Rocky Gerung, yang secara terbuka menyebut istilah “Londo Ireng” sebagai kritik terhadap mentalitas kolonial, bukan terhadap identitas ras tertentu.

Baca Juga: Presiden Prabowo Dijadwalkan Groundbreaking Ladang Gas Blok Masela

Menurut Prof. Andy, polemik yang berkembang seharusnya dikembalikan pada substansi pesan yang ingin disampaikan Presiden, yakni ajakan agar seluruh elemen bangsa memiliki keberpihakan yang kuat terhadap kepentingan nasional.

“Makna istilah itu perlu dikembalikan pada konteks kritik terhadap mentalitas kolonial, bukan dimaknai sebagai ungkapan rasial. Cara pandang seperti ini juga sejalan dengan semangat para pendiri bangsa, terutama Bung Karno, yang sejak awal mengkritik segala bentuk mentalitas terjajah dan menyerukan kemandirian bangsa,” ungkapnya.

Prof. Andy menilai bahwa dalam komunikasi politik, pemahaman terhadap konteks menjadi hal yang penting agar sebuah pernyataan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa perdebatan publik sebaiknya diarahkan pada substansi kebijakan dan gagasan, bukan semata-mata pada potongan istilah yang berpotensi menimbulkan penafsiran berbeda.

Dengan demikian, menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo mengenai “Londo Ireng” lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap pola pikir yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan nasional, bukan sebagai penyebutan yang ditujukan kepada kelompok ras tertentu. (red/jey)